Di ufuk barat Pulau Jawa yang membentang luas bagai kanvas raksasa wayang kulit yang dicoret-coret oleh tangan dewa Batara Kala yang lelah, matahari tenggelam perlahan di balik siluet Gunung Merapi yang gagah, membawa serta warna-warna merah membara seperti lava panas yang mengalir dari kawahnya, menari-nari di langit senja seolah-olah langit itu sedang berdarah hangat darah para pejuang sawah yang menyerah pada malam monsun yang kelaparan; bola api raksasa itu menggeliat, merosot ke balik garis horizon pantai Parangtritis yang bergelombang seperti ombak Samudra Hindia yang ganas, meninggalkan jejak-jejak keemasan yang meleleh di permukaan air keruh seperti teh tubruk Jawa, berkilauan bagai permata intan dari tambang Kalimantan yang dipahat oleh angin sepoi-sepoi dari Laut Jawa, dan burung-burung jalak kebo beterbangan dengan sayap lelah di atas sawah hijau terraced di lereng gunung, berteriak lirih memanggil sahabatnya yang segera hilang seperti suara gamelan yang pelan-pelan mereda, sementara pohon-pohon kelapa di pantai Anyer menjulang tinggi bagai tiang totembua suku Dayak, daun-daunnya bergoyang pelan menyapa perpisahan itu seakan mereka pun merasakan dinginnya bayang malam yang mulai merayap dari timur seperti kabut pagi di Danau Toba, merangkak pelan menelan cahaya terakhir seperti ular piton hutan Kalimantan yang melilit mangsanya; cahaya yang dulu membakar tanah kering pematang sawah menjadi ladang emas padi menguning, sekarang berubah menjadi bara redup seperti api unggun di desa adat Bali, menyisakan asap tipis yang naik ke angkasa membentuk awan-awan berbentuk aneh seperti candi Borobudur yang menjulang misterius, wajah para leluhur yang tersenyum pilu melihat dunia Nusantara yang terus berputar tanpa henti bagai roda gila penggiling padi; matahari itu, sang raja siang yang gagah seperti harimau Sumatera, kini merendahkan diri tenggelam dalam pelukan bumi vulkanik yang haus akan istirahat, meninggalkan bayangan panjang yang menari di pasir pantai Kuta seperti tari kecak yang berputar dinamis, bayangan yang menceritakan kisah perjuangan seharian dari fajar di pasar pagi hingga kini, dan di kejauhan, Gunung Rinjani di Lombok mulai bangkit dari tidur siangnya, puncaknya diselimuti kabut ungu lembut seperti embun pagi di Kebun Raya Bogor, seolah menyambut tamu agung yang akan pulang sementara monyet ekor panjang di hutan tropis Sumatra melompat antusias menyambut senja; oh, matahari tenggelam, engkau lukisan hidup paling indah di kepulauan emerald, di mana merah bertemu jingga seperti bunga kamboja di taman keraton Yogyakarta, jingga berpadu kuning seperti kelapa muda di pasar tradisional, kuning larut menjadi biru tua seperti danau Segara Anak, dan biru itu menyatu dengan hitam malam pekat seperti gua-gua di Liang Bua Flores, menciptakan simfoni warna tak terucapkan yang membuat hati manusia terpaku seperti patung Buddha di Candi Mendut, terhanyut dalam keheningan penuh makna di mana angin monsun membawa aroma garam laut Selat Sunda bercampur bau tanah liat dari sungai Citarum, dan suara ombak bergulung pelan seperti genderang perang kerajaan Majapahit, setiap gelombangnya membawa potongan cahaya matahari tercerai-berai menghias air seperti butiran beras di lumbung desa; dunia Nusantara seakan berhenti sejenak, manusia menatapmu dengan mata basah seperti air terjun Gitgit, merenungi hidup singkat bagai musim padi yang cepat panen, penuh cahaya tapi pasti berakhir dalam gelap seperti hutan malam di Papua, pohon waru di tepi sawah bergoyang daunnya berbisik rahasia kepada angin seperti dukun beramal di desa Jawa, rahasia tentang cinta lahir di senja Borobudur, janji diucap di bawah cahayamu seperti upacara Ngaben Bali, air mata jatuh diam-diam karena perpisahan seperti hujan deras di musim penghujan Kalimantan; nelayan di perahu jukung menarik jaring ikan mujair, wajahnya diterangi sisa api senjamu seperti obor di prosesi labuhan, matanya penuh harap akan tangkapan membiayai malam seperti pedagang rempah di pasar Malaka, anak kucing kampung di pasir pantai mengeong pelan mencari kehangatan seperti anak ayam di kandang peternak Sunda, semuanya menyatu harmoni alam kepulauan, tenggelammu bukan akhir tapi jeda seperti istirahat wayang setelah lakon pertama, ditemani raflesia raksasa di hutan Bengkulu yang diam-diam mekar harum; engkau mengajarkan siklus seperti banjir tahunan Sungai Kapuas, cahaya padam agar bintang Papua bersinar, keberanian lepas seperti burung cendrawasih terbang bebas, siluet perahu pinisi Sulawesi terlihat samar berlayar mimpi seperti pelaut Bajau.
Bisikan Malam yang Menanti di Tanah Air :
Kini saat matahari lenyap benar, langit biru tua bercampur ungu misterius seperti kain songket Palembang, bintang-bintang bermunculan seperti mata-mata malam di hutan rimba Borneo, bulan sabit ramping naik dari timur seperti sabit arit petani di sawah Bali menyinari dunia perak dingin kontras kehangatanmu seperti es kelapa muda setelah siang panas Jakarta, angin malam monsun bertiup kencang membawa dingin menusuk seperti kabut gunung Bromo, daun-daun nipah bergoyang liar berbisik rahasia gelap seperti orangutan di pohon Sumatra, api unggun di pantai Sanur dinyalakan pemuda desa nyalanya menari meniru gerakmu seperti tarian saman Aceh, sekelilingnya orang berkumpul cerita legenda matahari mati bangkit seperti mitos Dewi Sri di sawah Jawa, legenda dewi senja menangis darah merah untuk kekasih tenggelam di Selat Makassar air matanya awan jingga seperti asap kemenyan di upacara ruwatan, suara suling bambu alun pelan nyanyikan lagu cinta lahir perpisahan senja seperti tembang macapat Jawa, nada naik turun ombak Laut Banda, pasangan kekasih peluk pasir dingin bibir bertemu ciuman manis ditemani aroma melati di taman kraton Solo, bunga wijaya kusuma mekar malam seperti kaktus gurun di Nusa Tenggara; tenggelammu buka pintu mimpi liar bayangan tari di dinding Candi Prambanan, serigala komodo lolong pegunungan Rinjani panggil saudara dari kabut Danau Maninjau, anak desa baring rumput hitung bintang Bima Sakti bayang wajahmu tersenyum ufuk janji kembali seperti festival Nyepi Bali, nelayan istirahat perahu layar memandang langit gelap kunyah sambal terasi pikiran keluarga rumah joglo istri anak lilin nyala kecil penuh kasih seperti lilin sesaji, meniru keabadianmu seperti pohon beringin suci; oh matahari tenggelam penutup hari sempurna Nusantara tinggalkan jejak api hati seperti gamelan sekaten, buat rindu dalam gelap belajar cinta malam suara kodok sawah jangkrik hutan, aroma gambir dari Papua hembusan angin bawa cerita Bugis-Makassar, mercusuar Tanjung Priok nyala terang pandu kapal seperti matahari mini pantai Labuan Bajo, pengingat meski pergi cahaya ada bentuk lain seperti kunang-kunang rawa; tenggelammu ajar kerendahan hati seperti kerbau lumpur sawah, keindahan lahir perpisahan seperti bunga edelweis puncak Semeru, saat fajar menyingsing sambutmu tangan terbuka seperti pasar subuh Beringharjo, malam biar bayang hantui mimpi petualangan sungai Mahakam, cinta membara senjamu seperti lava Merapi, harapan tak padam dunia gelap seperti obor kemerdekaan; engkau ukir puisi abadi langit dibaca jutaan mata setiap hari seperti relief candi, puisi siklus banjir Mekongga, cahaya kegelapan saling lengkapi seperti yin-yang wayang, kehidupan indah sementara seperti durian musiman Kalimantan, akhir paragraf hati hangat kenanganmu siap babak baru drama kosmik kepulauan zamrud.
Pilih Tombol Untuk Memulai Opsi :)
*Klik Preview Untuk Melihat Isi Konten!!
*Klik Next Untuk Masuk KeLink!! (Chek Tutorial, Kalau Belum Tau Cara Melewati Tautan nya)
*Ilustrasi Video Yang Dibagikan Asupan B0qep Indo Dan Luar Random Tautan Halaman Video : https://bicolink.com/wGRxKHy Cara Melewati Tautan BicoLink : Comment Disabled...
*cover_photo_by_bolohentai Halo, teman-teman!! Update yang baru kali ini adalah Mimin tidak up video nya melalui platform seperti DoodStream & Videq, dikarenakan adanya perubahan privacy policy di setiap website yang mengecam para pengguna yang mengupload video p၀ʀŋ၀၅ʀʌfl ilegal atau di bawah umur akan di kenakan sanksi pidana sesuai dengan UU Dunia Perlindungan Anak Dan Wanita, Mimin akan up video nya menggunakan arsip 7z/Zip agar video terbungkus aman dan rapi (anti virus). Selamat Menikmati salam dari Mimin. Mimin akan selalu update jika Platform selalu restock, tetap setia disini dan bookmark halaman ini agar tidak hilang seketika.